بسم الله الرحمن الرحيم

 PERKAWINAN   SYIAH

       Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada satu pertanyaan yang sedang diributkan dimasyarakat, yaitu :  Apakah dibenarkan kita umat islam menghadiri perkawinannya orang syiah ?

        Untuk menjawab pertanyaan diatas, Redaksi  Ash-Showaaiq meminta kepada Yayasan  ALBAYYINAT   untuk membahasnya.

 

          Sebelum kami menjawab  pertanyaan diatas, terlebih dahulu kita harus tahu :

Apa yang dimaksud dengan Syiah ?.

         Syiah adalah aliran sempalan dalam islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran aliran sempalan dalam islam. Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam islam adalah aliran yang ajaran ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rosululloh Saw, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah.

         Selanjutnya oleh karena aliran aliran Syiah itu bermacam macam, ada aliran Syiah Zaidiyyah, ada aliran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah, ada aliran Syiah Ismailiyah dll, maka saat ini apabila kita menyebut kata Syiah maka yang dimaksud adalah aliran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah yang sedang berkembang dinegara kita dan berpusat di Iran atau yang sering disebut dengan Syiah Khumainiyyah.

        Hal mana karena Syiah inilah yang sekarang menjadi penyebab adanya keresahan dan permusuhan serta perpecahan didalam masyarakat, sehingga mengganggu dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita. Tokoh tokoh Syiah inilah yang sekarang sedang giat giatnya menyesatkan umat islam dari ajaran islam yang sebenarnya. Bahkan sekarang mereka menyusup keberbagai partai politik dan apabila dibutuhkan, Albayyinat bersedia   memberikan nama nama mereka.

 

         Adapun Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah adalah salah satu aliran Syiah dari sekian  banyak  aliran  Syiah  yang  satu  sama lain  berebut menamakan  aliran Syiahnya sebagai Madzhab Ahlul Bait. Dan penganutnya mengklaim hanya dirinya saja atau golongannya yang mengikuti dan mencintai Ahlul Bait. Aliran Syiah inilah yang dianut atau diikuti oleh mayoritas (65 %) rakyat Iran. Begitu pula sebagai aliran Syiah yang diikuti oleh orang orang di Indonesia yang sedang gandrung kepada Khumaini dan Syiahnya.

              Apabila dibanding dengan aliran aliran Syiah yang lain, maka aliran Syiah

 Imamiyyah Itsnaasyariyyah ini merupakan aliran Syiah yang paling sesat (GHULAH) dan paling berbahaya bagi agama, bangsa dan negara pada saat ini.

           Dengan menggunakan strategi yang licik yang mereka namakan TAGIYAH

( berdusta ) yang berakibat dapat menghalalkan segala cara, aliran ini dikembangkan.Akibatnya, banyak orang orang yang beragidah Ahlussunnah Waljamaah tertipu dan termakan oleh propaganda mereka, sehingga keluar dari agama nenek moyangnya (islam) dan masuk Syiah. Sebenarnya bagi orang orang yang berpendidikan agama menengah keatas, wabah ini tidak sampai menggoyahkan iman mereka, tapi bagi orang orang yang kurang pengetahuan islamnya, mudah sekali terjangkit penyakit ini.

         Berbeda dengan agidah Ahlussunnah Wal Jamaah yang penuh dengan cinta mencintai serta penuh dengan maaf memaafkan karena berdasarkan Al-Akhlagul Karimah dan Al-Afwa Indal Magdiroh (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) serta Husnudhdhon (baik sangka), maka ajaran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah ini penuh dengan laknat melaknat, karena dilandasi dengan Su’udhdhon ( buruk sangka ) dan dendam kesumat serta kefanatikan yang tidak berdasar.

         Dapat kita lihat bagaimana mereka tanpa sopan, berani dan terang terangan mencaci maki para sahabat, memfitnah istri istri Rosululloh Saw, khususnya Siti Aisyah, bahkan Rosululloh sendiri tidak luput dari tuduhan mereka. Ajaran ajaran Syiah yang meresahkan dan membangkitkan amarah umat islam ini, membuat para ulama diseluruh dunia sepakat untuk memberikan penerangan kepada masyarakat. Ratusan judul kitab diterbitkan, berjuta kitab dicetak dengan maksud agar masyarakat mengetahui kesesatan Syiah dan waspada         terhadap gerakan Syiah. Dalam menulis kitab kitab tersebut, para ulama kita itu mengambil sumber dan sandaran dari kitab kitab Syiah (kitab kitab rujuklan Syiah ), sehingga sukar sekali bagi orang orang Syiah untuk menyanggahnya.

         Selanjutnya dengan banyaknya beredar kitab kitab yang memuat dan memaparkan kesesatan ajaran Syiah, maka banyak orang yang dahulunya terpengaruh kepada Syiah menjadi sadar dan kembali kepada Agidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Hal ini tentu tidak lepas dari hidayah dan inayah serta taufig dari Alloh. Terkecuali orang orang yang memang bernasib buruk, yaitu orang orang yang sudah ditakdirkan oleh Alloh sebagai orang Syagi (celaka dan sengsara).Semoga kita dan keluarga kita digolongkan sebagai orang orang yang Suada’ atau orang orang yang beruntung yang diselamatkan oleh Alloh dari aliran Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah yang sesuai dengan fatwa  Maj’lis Ulama Indonesia ( MUI ) divonis sesat dan menyesatkan.

 

Syiah itu kafir apa masih islam ?.

        

       Seseorang jika mengatakan Syiah itu islam atau sudah keluar dari islam (KAFIR), maka dia harus mempunyai alasan. Sebab satu aliran bisa dikatakan masih     islam apabila   ajaran  ajarannya  sesuai  dengan  apa  yang  ada  di  dalam

Al qur’an  dan  hadist  dan   selama   ajaran ajarannya  tidak  bertentangan  dengan

Al qur’an dan Hadist. Begitu pula satu aliran akan dikatakan keluar dari  islam apabila ajaran - ajarannya bertentangan dengan Al qur’an dan Hadist, apalagi jika ajarannya menolak Kalamulloh.

           Sekarang kita lihat bagaimana ajaran - ajaran Syiah , apakah bertentangan dengan Al qur’an dan Hadist apa tidak bertentangan. Bagaimana sikap Syiah terhadap para Sahabat, terhadap istri istri Rosululloh serta bagaimana sikap dan keyakinan mereka terhadap Al qur’an itu sendiri.

         Dalam Al qur’an banyak sekali ayat ayat yang memuji dan menerangkan keutamaan para Sahabat, serta janji Alloh untuk memasukkan mereka dalam Surganya. Sedang dalam ajaran Syiah diterangkan bahwa para Sahabat yang dipuji oleh Alloh tsb, setelah Rosululloh Saw.wafat, mereka menjadi MURTAD (baca Al kafi 8-345).Alasan mereka karena para Sahabat membaiat Sayyidina Abubakar r.a sebagai Kholifah dan tidak membaiat Sayyidina Ali k.w. Kemudian mereka juga mencaci maki dan memfitnah istri istri Rosululloh Saw. Mereka mengatakan bahwa Siti Aisyah telah melakukan perbuatan serong. Padahal Alloh dalam Al qur’an telah menurunkan beberapa ayat dalam Surat An Nur yang isinya menerangkan kesucian Siti Aisyah, serta menolak tuduhan tuduhan yang dialamatkan kepada istri Rosululloh tersebut.

         Dengan  demikian  jelas  sekali,  berarti  ajaran  Syiah  bertentangan  dengan

Al qur’an, atau jelasnya mereka menolak Kalamulloh (Al qur’an). Sedang orang yang menolak Kalamulloh , tidak diragukan lagi kekufurannya.. Dalam Al qur’an juga, Alloh telah menjamin keaslian Al qur’an ( Q.S. Al-Hijr  : 9 ), tapi dalam ajaran Syiah, mereka berkeyakinan bahwa Al qur’an yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi ( Muharrof ). Ini berarti mereka menolak Kalamulloh. Mereka lebih percaya kata kata ulama mereka dari pada firman Alloh. Itulah sebabnya para ulama dengan tegas mengatakan bahwa Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah atau yang sekarang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait, telah keluar dari islam (orangnya menjadi MURTAD karena asalnya beragama islam ). Ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi orang orang Syiah saja, tapi siapa saja yang berkeyakinan seperti itu,telah keluar dari islam ( Kafir Murtad )

         Disamping ajaran Syiah bertentangan dengan Al qur’an, juga perbedaan kita umat islam dengan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah, disamping dalam Furu’ (cabang), juga dalam Ushul (pokok). Rukun iman kita berbeda dengan rukun iman mereka, juga rukun islam kita juga berbeda dengan rukun islam mereka. Oleh karena rukun iman kita berbeda dengan rukun iman mereka, maka konsekwensinya mereka mengkafirkan kita umat islam dan sebaliknya kita juga mengkafirkan mereka.

         Disamping itu masih banyak lagi hal hal yang dapat mengeluarkan mereka dari islam, seperti sikap dan keyakinan mereka terhadap Imam Imam mereka. Dimana mereka mendudukkan imam imam mereka diatas para Rosul dan para Malaikat Al-Mugorrobin  (baca Al Hukumah Al Islamiah  - 52, karangan Khumaini).

         Hal hal semacam inilah yang dipakai rujukan oleh para ulama dalam menghukum KAFIR golongan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah

 

Apakah dibenarkan seorang Muslimah menikah dengan seorang laki laki yang beraqidahkan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah ?.

       

     Sebagaimana kita ketahui, bahwa seorang muslimah tidak dibenarkan kawin atau menikah dengan seorang yang beragama diluar agama islam, seperti Kristen, Konghucu, Buda, Yahudi dll. Dan apabila tetap dilaksanakan, maka pernikahannya tidak sah.

        Begitu pula seorang Muslimah tidak dibenarkan Atau tidak diperbolehkan menikah dengan  seorang yang Murtad.  Orang Murtad  adalah  orang yang asalnya beragama islam, kemudian dia pindah agama lain. Atau dia asalnya seorang Muslim kemudian dia berkeyakinan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari islam (  Murtad ), seperti orang orang yang beragidahkan Syiah Imamiyyah Itsnaasyariyyah (baca kajian Syiah diatas).

        Itulah sebabnya tidak ada orang islam yang menikahkan putrinya dengan orang Syiah, sebab pernikahan tersebut tidak Sah. Dan jika terlanjur terjadi, misalnya karena tidak tahu bahwa orang tsb. Syiah, maka harus dipisahkan.

        Ada satu catatan yang perlu diperhatikan; Jika dari pernikahan yang tidak sah tersebut sampai menghasilkan putra putra, maka sejarah akan mencatat bahwa anak anak tersebut sebagai anak anak yang lahir dari pernikahan yang tidak sah. Naudzubillah mindzalik

        Begitu pula tidak dibenarkan , seorang yang beragama Keristen atau Buda atau Syiah yang membaca Khutbah Nikah dalam acara pernikahan seorang Muslimah.

 

Lalu bagaimana dengan orang orang yang menghadiri pernikahan orang Syiah tersebut?

       

       Nastagfirulloh Wanatubuilaih, semoga Alloh memberi hidayah pada kita serta mengampuni dan memberi maaf orang orang yang menghadiri perkawinan tsb. Sebab kehadiran kita tersebut adalah pelecehan terhadap agama Islam serta menganggap enteng misi Rosululloh Saw. Kehadiran kita tersebut,berarti kita menyaksikan dan menjadi saksi satu pernikahan yang tidak sah, karena melanggar hukum Alloh. Disamping itu berarti kita datang untuk memeriahkan dan memberi doa restu perkawinannya seorang yang telah menghina dan mencaci maki serta memfitnah dan mengkafirkan para Sahabat dan istri istri Rosululloh, bahkan Rosululloh sendiri tidak luput dari tuduhan mereka.

         Mari kita gunakan akal sehat kita, kira kira Rosululloh Saw akan senang dengan perbuatan kita tsb, apa Rosululloh Saw akan murka. Bagaimana kita akan meminta Syafaat dari Rosululloh Saw, sedang kita menyakitkan hati beliau, disebabkan kita menyenangkan hati musuh musuh beliau, yaitu orang orang yang suka mencaci maki istri istrinya, mertuanya, menantunya dan sahabat sahabatnya.

         Alangkah dholimnya kita terhadap diri kita sendiri. Dan hanya orang orang yang tidak waras, yang memilih lebih baik Rosululloh murka kepadanya asal pengundang perkawinan tersebut senang.

         Selama ini masalah ini kita anggap biasa biasa saja, padahal ini adalah masalah yang sangat besar akibatnya.

         Kepada tokoh tokoh yang merasa menjadi panutan masyarakat, tolong , sekali lagi tolong selamatkan ummat dan jangan karena kepentingan antum, ummat antum korbankan. Berikan pada mereka contoh yang baik, jadilah gudwah yang baik.

         Yaa Alloh berilah hidayah pada kami, sehingga kami berani mengatakan yang Hak itu Hak dan yang batil itu batil.

          Terakhir, marilah kita berusaha menyenangkan hati Rosululloh Saw, dengan membela istri istrinya, membela mertua mertuanya, membela menantu menantunya serta membela semua Ahlul Baitnya dan semua sahabatnya. Karena dengan membela mereka, berarti kita membela dan menyenangkan Rosululloh Saw.

         Semoga Alloh dan Rosulnya ridho pada kita . Amin Yaa Robbal’aalamin.

       

         Demikian semoga kajian ini bermanfaat bagi kita semua, kurang lebihnya kami dari Dewan Redaksi  Ash-Showaaiq  memohon maaf yang sebesar besarnya.

 


ASH-SHOWAAIQ EDISI KHUSUS   Juli  2005